Buka Internet, selalu tahu yang kita mau ! Alasannya ?

Pagi cerah dan barokah ….!

Topik

Topik Pembicaraan

Pada postingan kali ini, saya akan membahas hal yang paling sering kita temui sehari-hari. Yaitu, yang berhubungan dengan internet. Pernahkah kalian merasakan kalau setiap kita buka handphone atau laptop yang terkoneksi internet, dan ingin mencari sesuatu tiba-tiba saja kita mendapakat informasi yang kita mau. Padahal kita sama sekali belum mengetik apapun itu, tapi seolah-olah perangkat kita jadi dukun yang mampu menebaknya.

Contoh lain adalah, ketika kita membuka youtube atau sosial media. Pertama kita login dengan akun kita, langsung deh…, di situ kita mendapatkan saran dengan informasi-informasi yang sesuai dengan apa yang ada di pikiran kita bahkan kita perlukan. Padahal kita juga belum mengetiknya. Ada lagi kalau di sosial media, kita seolah-olah di suguhkan dengan berita yang itu-itu saja kadang bikin kita jengkel karena pembahasan dan topiknya kadang hanya sebatas apa yang kita suka dan kita ketahui. Sehingga kita hanya bisa merasakan sesuatu yang terdekat dengan kita saja, seolah kita belum mendapatkan informasi secara luas.

Nah…, fenomena inilah yang di sebut dengan Filter bubble Effect. Apa itu ?

Asal usulnya, pertama kali istilah ini diperkenalkan oleh seorang aktivis internet terkemuka bernama Eli Pariser. Menurut informasi dari Wikipedia dan beberapa sumber yang ane baca, Arti dari Filter Bubble adalah sebuah kondisi hasil formulasi hitungan perkiraan algoritma penyaringan pada sebuah situs yang akan menebak informasi apa yang pengguna ingin melihat berdasarkan informasi tentang pengguna (seperti lokasi, Riwayat klik, riwayat like, pertukaran komentar, dan riwayat pencarian), sebagai hasilnya, pengguna menjadi terpisah dari informasi yang tidak selaras dengan pandangan mereka.

Internet

Contohnya seperti yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Bahkan iklan pun yang muncul di Smartphone kita terkadang sesuai dengan hobi kita lho. Oke lah, berikut saya kasih contoh lagi.

Contoh adalah hasil personalisasi pencarian Google dan aliran berita yang ada di beranda Facebook kita. pengguna sosial media akan mendapatkan informasi yang lebih sedikit untuk sudut pandang yang bertentangan dengan sudut pandangnya dan terisolasi secara intelektual dalam gelembung informasi mereka sendiri. Pariser mengaitkan sebuah contoh di mana satu pengguna menggunakan mesin pencari Google untuk “BP” dan mendapat berita investasi sekitar British Petroleum sementara pencari lain mendapat informasi tentang tumpahan minyak Horizon Deepwater. Hal ini menunjukan bahwa hasil pencarian untuk keyword yang sama yaitu “BP” ternyata menghasilkan dua hasil pencarian yang “sangat berbeda.” , misal ente biasanya aktivitas di internet seputar sepak bola, entah like komen atau search di bidang sepak bola, bisa jadi ketika ente melakukan pencarian “BP” munculnya “bambang pamungkas”.

Terus, Apa Bahayanya ?

Jelas bahaya donk. Coba perhatikan disini.
Bahaya dari efek filter bubble ini, seorang pengguna sosial media akan seolah-olah terkurung didalam balon imajiner, yang mana isi dari balon itu adalah mayoritas orang-orang yang sependapat/sepemikiran dengan pengguna sosial media tersebut. dimana orang-orang itu ditemukan oleh sosial media dari hasil penyaringan. Tentunya keadaan ini akan berpengaruh terhadap perkembangan pola pikir dan respon di masyarakat. Pengguna Sosial media tersebut hanya disodori pengguna sosmed lain yang pro dengan dia, tidak dengan yang kontra dengan dia. Nah…, dari sini sudah dapat gambarankan bahanyanya. Kalau masih kurang jelas, berikut saya bedakan menjadi 3 Bahaya dari Fenomena Filter Bubble Effect.

  1. Fanatik Berlebihan
    Karena terbiasa terkurung dalam gelembung informasi yang sangat minim informasi dan tidak berimbang, membuat pola pikir semakin sempit, pendek dan tidak berkembang. dia dapat kaget bahkan berontak andaikata menemui sesuatu hal yang tidak sependapat dengan dia atau yang di dalam gelembung nya.
  2. Egois, Mau Menang sendiri dan Anti kritik.
    Hal ini menjadi mungkin terjadi, karena selalu disodori opini dan pandangan pro. Sebut saja si A dia mengidolakan Artis Korea Karena selalu disodori opini dan pandangan pro terhadap artis korea X ini , maka si A akan semakin jauh dari opini dan pandangan di luar itu. Walaupun si C menulis kritik bagus mengenai artis korea X, namun tidak akan sampai ke newsfeed si A. Akhirnya semakin lama semakin terbentuk pemikiran “pokoknya Artis Korea X yang paling bagus, yang lain jelek”.
  3. Overklaim
    Kalo misal nih, si A tadi ditanya, “Seberapa tingkat kepopuleran Artis korea X sekarang?”, bisa jadi serta-merta makclenger dia akan menjawab, “Wah, sangat bagus. Di news feed FB saya semuanya mengidolakan Artis Korea. Ada kecenderungan orang untuk over klaim bahwa orang lain semua sepaham dengan dia, padahal belum tentu, mungkin banyak juga teman social media dia yang tidak mengetahui keberadaan Artis Korea X tersebut.

Makanya, ini juga menjadi salah satu alasan kenapa sering banget di beranda sosial media kita munculnya berita itu-itu saja. Bahkan pembahasan yang membosankan pula. Ada juga berita HOAX yang sedang merajalela. Kita harus jeli dengan informasi yang kita konsumsi. Alangkah baiknya pula, bisa kita manfaatkan media internet ini untuk belajar. Cari informasi untuk sebuah perkembangan softskills kita. Misalnya melihat Tutorial, Download materi Pelajaran, atau mencari media Interaktif yang tepat untuk kegiatan belajar mengajar.

Okay…, cukup sekian dulu informasi saat ini. Jika masih bingung dengan apa yang ada di artikel ini. Silahkan menuju Sumber informasinya. Klik disini untuk menuju sumber infromasi. Di sumber tersebut terdapat juga ilustrasinya. Ilustrasi tidak saya masukkan ke sini, cukup kalian saja yang langsung ke sumbernya. Capek soalnya nulis. :ngakak

SILAHKAN KIRIM PERTANYAAN/KOMENTAR ANDA ...

Your email address will not be published. Required fields are marked *

[+] kaskus emoticons nartzco